
Play/Download
Dari Bagian 2
Aku begitu terkejut mendengarkan seorang nyonya yang begitu alim, lugu dan tertutup akhirnya menjadi sangat 'terbuka'.
"Maksudku, apa mereka suka melakukannya denganku" tanyanya.
"Oh ya", aku meyakinkannya.
"Aku sangat yakin kalau kamu serasa bagaikan seorang perawan bagi mereka".
"Maksudku, aku tak ingin mereka menganggap aku seorang yang... Kamu
tahu, aku sama sekali tak punya pengalaman dalam hal ini". Katanya.
Aku tertawa lagi dan mengatakan padanya kalau mereka akan rela melewati
rintangan apapun hanya untuk dapat menikmati vaginanya yang rapat itu
lagi. Wajahnya kembali bersemu merah dan bertanya padaku bagaimana aku
bisa bersama mereka sepanjang waktu. Kukatakan padanya bahwa mereka
adalah pasangan bercintaku dalam setahun belakangan ini dan vaginaku tak
bisa menampung penisnya Rai waktu pertama kali, tapi sekarang Rai dapat
memasukkannya dengan lancar.
"Tapi bagaimana dengan suamimu?" tanyanya keheranan.
"Apakah dia tak merasakan perbedaannya dalam dirimu?".
"Dia tak pernah menanyakan hal itu, tapi aku tahu dia pasti tak merasakannya. Begini, dia tetap rutin menggauliku".
"Apakah mereka.., mm.. Maksudku para pria mau datang hari ini, mungkin
sekedar untuk minum secangkir kopi". Dengan cepat dia bertanya.
"Ya, pasti mereka mau," kataku.
"Tapi suamiku Teddy akan pulang sekitar jam empat sore nanti". Aku
mengamati reaksinya, wajahnya tertunduk dengan mata menatap lantai.
"Tapi kita bisa datang ke rumahmu dan aku tinggal menulis pesan untuk
suamiku kalau aku sedang pergi belanja atau arisan apalah sama kamu.
Bukankah katamu suamimu sedang keluar kota untuk beberapa hari sekarang
ini?" kataku menghiburnya.
"Oh ya, tentu kita bisa melakukannya" jawabnya dengan nada gembira.
"Apa kamu akan menelepon mereka?".
Dia benar-benar tak sabar dan ingin segara melakukannya. Tak mungkin lagi untuk menolaknya..
"Aku akan menelpon mereka sekarang," kataku, melihatnya duduk di kursi. Tangannya meremas pegangan kursi dengan kuat.
*****
Ananda segara pulang ke rumahnya untuk mandi. Aku melakukan hal yang
sama dan mengatakan padanya akan langsung menelponnya begitu Rai dan
James tiba nanti. Aku tak sabar untuk melihat reaksinya nanti saat
melihat Jay datang bersama kami.
Para pria datang kira-kira satu jam kemudian. Kami membuat sedikit
rencana untuk'aksi' nanti. James dan aku akan datang duluan dan Rai
beserta Jay menyusul sejam kemudian.
Kami berangkat ke rumah Ananda dan mendapat sambutan yang hangat, dia
kemudian memintaku untuk membantunya di dapur. Roknya yang lebar dan
panjang berayun ke depan dan belakang di sela sela pinggangnya saat aku
mengikutinya dari belakang.
"Mana Rai" tanyanya.
"Dia akan segera datang, kira-kira se-jam-an lagi deh" kataku padanya.
"Dia tertahan oleh pekerjaannya".
Ananda menuangkan anggur yang kubawakan dari rumah untuk kami, tentu
saja di rumahnya tak mungkin ada persediaan anggur. Suaminya tak akan
mengijinkan hal itu. Kami pergi ke ruang keluarga dan mengobrol di sana.
Setelah lebih dari 45 menitan, aku minta pada Ananda untuk menunjukkan
suasana rumahnya pada James. Aku dapat mendengarnya saat dia menunjukkan
ruang bawah tangga dan mereka berdua menaiki tangga untuk melihat kamar
tidur utama.
Seperti yang direncanakan, aku menemui Rai dan Jay sebelum mereka membunyikan bel.
"Mereka di atas" kataku menjelaskan.
"Sudah lebih dari 45 menit yang lalu".
Kami bergandengan dan bergelak pelan layaknya pencuri berjalan keatas
menuju ke kamar tidur utama. Pintunya tidak dikunci dan sedikit terbuka
sehingga kami dapat menyaksikan pemandangan paling sexy yang kusaksikan
hari ini.
Ananda sedang bertumpu pada kedua siku dan lututnya di ujung tempat
tidur, pantatnya mendongak tinggi, desahannya terdengar pelan. Roknya
tersingkap hingga pinggang, kepalanya membelakangi kami, rata dengan
kasur. Celana dalamnya tergeletak begitu saja pada lantai di dekat
tempat tidur. James berlutut, wajahnya terkubur dalam pantat Ananda,
menjilat dengan kuat pada klitorisnya yang basah hingga lubang anusnya.
Aroma sexual memenuhi seluruh ruangan. Dan yang lebih tabu lagi, semua
itu dilakukannya di rumahnya sendiri, bahkan di atas ranjang yang
pastinya selalu dijaga kesuciannya oleh suaminya!!
Rupanya Ananda telah berubah menjadi seseorang yang berbeda sama sekali
saat sisi 'gelapnya' terkuak. Dia telah mempersetankan segala aturan dan
larangan yang selama ini mendoktrinnya..
"Wuu-huu" teriak Rai, "Saatnya pesta".
Ananda segera bangkit menyingkirkan James dari vaginanya. Kepalanya
menatap lurus ke arah kami dan menatap kami bertiga satu persatu.
"Oh Tuhanku" katanya.
"Ananda, ini Jay teman baru kita" aku menjelaskan padanya.
"Dia hitam sekali".
"Ya, dia seorang Ambon" sambungku.
"Waah.. Apa nih yang sedang dilakukan James? Kelihatannya menggairahkan bagiku".
"Apa Nyong Ambon mencumbu vagina?" aku tanya pada Jay dengan pandangan menggoda.
"Itu salah satu favoritku sayang" jawabnya kembali.
Dengan cepat kulepaskan pakaianku kemudian menarik rok Ananda melewati
kepalanya memperlihatkan payudaranya yang kini berayun bebas.
"Wah, Ananda nggak pake BH hari ini" kataku, mengagumi putingnya yang sudah mengeras karena terangsang.
James menarik Ananda ke posisi semula dan aku bergabung dengan mereka
bersamaan dengan Jay yang menjelajahi belahan pantatku dengan lidahnya
dan mulai mencumbui vaginaku. Rai tak mau menyia-nyiakan waktu dan
langsung mengincar bibirku, menyodorkan penisnya yang baru setengah
ereksi ke bibirku. Dalam posisi seperti ini aku dapat memasukkan seluruh
bagian penisnya ke dalam mulutku, dan erangan kenikmatan keluar dari
mulutnya menyuarakan apa yang tengah dirasakannya.
Teriakan Ananda jadi bertambah keras, aku tahu letupan orgasme akan
segera menyongsongnya dan aku segera mempermainkan putingnya dengan
jariku begitu dia mencapai orgasme pertamanya di wajah James. Dia
sungguh sangat cantik saat sedang dilanda orgasme!! Kepala ranjang
menjadi bergoyang maju mundur begitu James memompa vaginanya dengan
penisnya.
Kulepaskan mulutku dari penis Rai dan memberi semangat pada James agar
menyetubuhi jiwa dan raganya. Ini membuat James menjadi lebih terbakar
lagi gairahnya, dan memuji Ananda betapa ketat dan basah vaginanya dan
dia akan segera mengisinya dengan sperma panasnya. Setelah beberapa
menit, dia berteriak dan melepaskan spermanya dalam vagina Ananda.
Aku mengarahkan kepala Ananda pada batang penis Rai dan dia mulai
menjilatinya ke atas dan ke bawah. Aku menghampiri James yang sedang
berbaring istirahat di tepi ranjang dan segera membersihkan penisnya
dari sisa spermanya yang bercampur dengan cairan kewanitaan Ananda
menggunakan mulutku. Jay langsung memanfaatkan situasi ini untuk segera
melesakkan penis hitamnya ke vagina Ananda.
Dia kelihatan seperti akan protes pada awalnya saat penis hitam Jay
menerobos masuk ke dirinya dan langsung mengerang begitu penis Jay telah
menyentuh dinding rahimnya. Jay segera membuat gerakan memacu, mengocok
vaginanya yang segera saja mengantarkan Ananda pada gerbang orgasme
keduanya, sebuah klimaks yang panjang. Wajahnya mengekspresikan
perpaduan antara rasa sakit dan kenikmatan tiada tara.
Seiring dengan Ananda yang tengah menikmati ledakan orgasmenya, aku
tarik Jay dari tubuh Ananda, penis hitam panjangnya nampak berkilat
berkilauan oleh cairan Ananda. Rai menarik Ananda, memeluknya dalam
dekapan dadanya. Menghisap dan menggigit puting Ananda kemudian
menempatkan penisnya dalam vagina Ananda yang telah kosong. Ananda
menurunkan pantatnya perlahan memasukkan penis Rai yang ukurannya masih
terlalu besar baginya, hingga akhirnya dapat tertampung masuk
seluruhnya. Dia mulai menaik turunkan pantatnya di atas tubuh Rai.
Lenguhan nikmatnya bergema di seluruh sudut kamar. Rai memegang erat
pinggangnya menarik turun tubuhnya, beradu dengan tubuhnya sendiri
hingga mengekspose belahan pantat Ananda pada Rai.
Aku mengambil Baby Oil dari kamar mandi Ananda dan melumurkannya pada
batang penis Jay. Jay memposisikan dirinya di belakang Ananda dan mulai
memaksakan penisnya untuk masuk dalam lubang anus Ananda yang masih
perawan. Dia berteriak memohon jangan dan tidak berulang ulang, mencoba
melepaskan diri dari penis Jay di belakangnya.
Rai mendekapnya erat dalam pelukannya, tangannya melingkar erat di
pinggang Ananda. Jay kini mulai dapat memasukkan kepala penisnya ke
dalam lubang anus Ananda dan menekan perlahan lebih ke dalam. Ananda
nyaris berteriak keras begitu Jay akhirnya berhasil memasukkan seluruh
batang penisnya ke dalam lubang anusnya. Bersamaan dengan penis Rai di
dalam vagina Ananda, Jay mulai mengayun maju mundur penisnya dalam
lubang anus Ananda dengan variasi dangkal dalam menyebabkan Ananda
langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Jay menggeram hebat begitu
spermanya menyembur dalam anus Ananda.
James tiba-tiba menggantikan posisi Jay dan segera meggasak kembali
lubang anus Ananda, sperma Jay meleleh keluar dari lubang anus Ananda
begitu James melesakkan penisnya ke dalam. Dia juga tak sanggup bertahan
lama dan dalam menit berikutnya menanamkan penisnya dalam dalam,
mencengkeram dan memukul bongkahan pantat Ananda, menariknya rapat-rapat
menempel erat dengan tubuhnya. Pinggangnya bergerak cepat maju mundur
mengiringi pengisian lubang anus Ananda dengan spermanya lebih banyak
lagi.
Rai mengeluarkan penisnya dan mengincar lubang anus Ananda sebagai
pelepasan terakhir juga. Untuk 10 menit ke depan Rai menggoyang Ananda
dari belakang. Aku mendekati Ananda dan menarik rambutnya ke belakang
membuat wajahnya menengadah keatas. Langsung kuberi dia ciuman yang
panjang dan dalam. Kemudian menyodorkan vaginaku ke depan wajah, hidung
dan mulutnya. Kupegang kepalanya dan mendekatkannya pada bibir vaginaku,
melingkarkan kedua pahaku pada lehernya memaksanya untuk membenamkan
mulut dan lidahnya lebih dalam lagi pada vaginaku dengan tanganku yang
mengendalikannya dari belakang kepalanya.
Dan meledaklah orgasmeku. Secara refleks, kuhimpit kuat-kuat kepalanya
dengan kedua belah pahaku, menekan ke depan pantatku agar semakin dalam
wajahnya tenggelam dalam vaginaku. Aku menggeram hebat. Tubuhku
mengejang ngejang untuk beberapa saat, lalu lemas menyelubungiku. Ananda
segera menarik kepalanya dari jepitan kedua pahaku seperti orang yang
kehabisan nafas, Rai mendekatkan kepalanya ke arah vaginaku dan langsung
menghisap habis cairan kenikmatanku, membuat wajahnya belepotan
karenanya.
Jay dan James mengocok batang penis mereka saat Rai berteriak bahwa
orgasmenya sudah dekat di dalam lubang anus Ananda. Rai menarik keluar
penisnya dari anus Ananda dan segera mengocoknya di depan wajah Ananda.
Teriakan Rai mengiringi tembakan spermanya pada wajah, pipi dan mulut
Ananda yang terbuka menunggu.
Detik berikutnya Jay sudah berada diantara paha Ananda dan bersiap untuk
memasukkan batang penisnya dalam vagina Ananda yang sudah sangat basah.
Berdiri di ujung tempat tidur, dia memegangi kedua tumit kaki Ananda
dan mulai menggoyang Ananda kembali. Bibir tengah vaginanya mencengkeram
erat sekeliling batang penis Jay seiring tiap hentakan, kelentitnya
ikut terdorong masuk begitu Jay menekan masuk penisnya. Orgasme Ananda
berkesinambungan, Jay menggeram keenakan. James kemudian melumuri
payudara dan perut Ananda dengan spermanya.
Jay tidak mengendorkan gerakannya sampai pada saat penisnya terasa akan
meledak oleh dorongan spermanya, dan akhirnya meyirami rahim Ananda
dengan guyuran sperma panasnya. Ananda berbaring telentang dengan kaki
yang masih terpentang lebar. Sperma melumuri sekujur tubuhnya, dan
meleleh keluar dari kedua lubang bawahnya. Para pria mengoles oleskan
penis mereka yang basah pada wajah Ananda. Sedangkan aku juga telah
mendapatkan lagi orgasmeku sendiri dengan permainan jari tanganku.
Aku pandangi Ananda, lalu mulai menjilat dan mengisap membersihkan
sekujur tubuhnya dari sisa-sisa sperma. Tangannya membelai rambutku saat
aku membersihkan sperma para pria yang masih tertinggal pada vaginanya.
Aku kenakan kembali pakaianku secepat aku melepasnya tadi dan bilang
pada mereka kalau aku tak dapat tinggal lebih lama lagi dan harus segera
pulang karena suamiku sedang ada di rumah sekarang.
*****
Aku terbangun keesokan harinya, segera ke rumah Ananda begitu suamiku
berangkat ke kantor. Aku harus mencari tahu tentang semua kejadian
semalam..
E N D